Tampilkan postingan dengan label bahasa jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa jiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

Kunci Oh Kunci



09 Desember 2012

13.00 WIB
Dengan santai sambil bernyanyi gembira tanpa merasakan apa-apa, nothing special (sok inggris dikit), gue pastikan lagi wajah manis gue dicermin besar yang menempel kokoh didinding kamar gue yang paling nyaman (ini benaran lho... asli nyaman badai).

“okee... ditunggu”

Gue baca lagi sms dari Riry Hidayahary temen sekampus gue yang paling nggak nyambung (kabelnya keseringan putus digigitin tikus sich!). Beberapa jam yang lalu gue udah membuat janji untuk datang kerumah Riry. Karena weekend nggak ada kegiatan apa-apa, dari pada betapa (nambah ilmu santet) di rumah, kita berencana untuk menyegarkan pikiran dan hati nurani dengan mengunjungi salah satu tempat rekreasi yang ada di daerah gue tinggal.
Akhirnya gue sampai dirumah Riry dengan selamat tidak kurang suatu apa pun, cuma kurang banyak uang aja (kasian amat ya!). Dirumah Riry seperti biasa ada Desy, kak Ria dan kebetulan juga ada nyokapnya Riry yang baru datang dari Bahar city (City sawitnya sich, selama yang gue tau!).

16.00 WIB

Rencana perjalanan terhambat beberapa menit karena ada insiden kecil yang sebenarnya sangat, amat, terlalu konyol (ciuusaan lho!). Motor gue yang akan digunakan sebagai rekomendasi kendaraan terbaik (niatnya mo pake pesawat pribadi gue, tapi bingung dimana mendaratnya) kuncinya nggak bisa terbuka. Udah dicoba beberapa kali dengan penuh kesabaran tetap aja nggak bisa terbuka. Anehnya motor Nyokapnya Riry juga kuncinya nggak bisa terbuka. Sekedar info aja ni, sebelum menuju ketempat rekreasi yang telah ditentukan, gue dan Riry bermaksud menemani Nyokapnya Riry belanja dulu. Jadi kita berangkat bersamaan dari rumah. Lho tau sendiri kebersamaan itu indah dan mahal (sok bijak nggak bayar kan?)
Tak mengenal kata menyerah gue dan nyokapnya Riry terus berusaha membuka kunci motor kita masing-masing. “huuhh...tetap nggak mau!” gue nyerah, putus asa.
“Kuncinya ketukar nggak?” tiba-tiba Riry nyeletuk.
Dan ternyata apa yang diucapkan temen gue yang trkadang encer juga otaknya benar. Kunci motor gue dan nyokapnya ketukar. Sama sekali nggak ada perbedaan yang kasat mata antara kunci motor gue dan nyokapnya Riry (beneran! Miapaah!, kalau lo nggak percaya coba aja periksa). Anehnya gue sama sekali nggak kepikiran itu dari tadi.
Dijalan gue terus aja katawa sampai-sampai Riry bingung (nggak! Gue nggak gila, sembarangan lo). Gue ketawa karena waktu motor gue dan nyokapnya Riry kuncinya nggak bisa dibuka yang terlintas dipikiran gue hanya satu “adanya perkuncian motor massal dari pabrik untuk seluruh jenis motor Honda” (ada ya?? gue juga bingug!).
Beberapa menit sebelum waktu shalat maghrib habis kita bedua sudah berada dirumah. Jadi masih sempat melaksanakan shalat maghrib. Jangan salah, gini-gini gue rajin ibadah dan menabung lho! (nggak percayaan banget lo!)

21.00 WIB

Mandi, nonton televisi, makan, buka facebook, ngetwit dulu, curcol, sedikit cuplikan kegiatan yang kita lakukan setelah pulang dari refreshing pikiran.
“Ri, kunci motor gue tadi mana?”
“lho... nggak ada. Bukannya tadi lo sendiri yang pegang.”
“Nggak! Orang tadi yang bawa kan bukan gue.”
Sibuk semua, mencari kunci motor. Desi, kak Ria juga ikutan sibuk bantuin mencari kunci motor gue yang ntah dimana buminya. Tas, dompet, lemari, kantong celana sudah di introgasi semua sampai tempat-tempat yang memungkinkan disinggahi oleh ci kunci motor. Tapi tetap nggak ada (emang dasar la, si kunci suka bikin ulah).
“Desy memang nggak ada ngeliat kunci motor tu kak dari tadi, memangnya di tarok mana?”
“Ye elah Des! Kalau ingat dimana naroknya juga nggak akan sibuk gini nyarinya.”
“beneran nggak ada ya Ry?” gue masih nggak percaya kalau kuncinya beneran hilang. Soalnya temen-temen gue selama ini memang pada nggak beres, usil semua. Kunci motor gue sering di sembunyiin hanya untuk membuat sensasi (coba-coba nyaingin syahrini! Mana mungkin!)
“O iya, jangan-jangan dalam plastik bakso bakar (bukan bermaksud promosi lhoo..). Plastiknya tadi lo tarok mana Ri?”
Tanpa rasa bersalah dengan wajah polos “udah gue buang kedepan tadi sama Desy, sekalian buang sampah yang udah numpuk di belakang”
“hahh??”
Dengan secepat kilat Desy mengeluarkan motornya. Tidak lagi memikirkan penampilan yang berantakan dan wajah yang penuh kekhawatiran (yakin sich, biar gimana pun kalau udah cantik tetap aja cantik, secaraa...) gue dan Desy langsung meluncur ke tempat pembuangan sampah yang letaknya kira-kira 1000 meter dari rumah. Dengan harapan kardus ditambah plastik-plastik lainnya termasuk plastik bakso bakar yang udah di kenalkan tadi, belum di ubek-ubek oleh orang-orang yang biasa ngambil sampah.
Perjalanan menuju tempat pembuangan sampah tidaklah mulus dan lancar. Desy yang menjadi pemandu ternyata lupa tempat pembuangannya. Akhirnya putar balik karena tempat pembuangan sampah udah terlewatkan.
“Des, mana plastiknya?”
“Tadi beneran dibuang kesini lho kak, tapi kok kardusnya udah nggak ada ya?”
“Plastiknya yang ini kan tadi?”
“iya, plastiknya mirip itu”
Puas gue dan Desy ngubek-ubek tempat sampah, menahan bau yang luar biasa wanginya, menahan malu diliatin bapak-bapak ojek yang mangkal tidak jauh dari tempat gue beraksi, menahan malu dari ribuan orang-orang yang lewat (info penting ni, tempat pembuangan sampah itu tepat di pinggir jalan raya depan STM atas dekat dengan salah satu pusat perbelanjaan elit di kota gue Jambi Town Square). Nggak tau lagi gimana malunya gue. Malam-malam jadi pemulung yang gagal, secara kuncinya nggak juga ketemu setelah beberapa menit berteman dengan tempat sampah.
Gue dan Desy pulang dengan tangan kosong dan wajah putus asa. Dalam perjalanan pulang terlintas di pikiran ocehan dari ortu gue mengetahui kelalaian gue sampai kunci motor hilang. Siap-siap menerima banyak kata-kata (kalau uang dengan senang hati) yang bakalan meluncur dari mulut ortu gue. Huuhhh!!!!!!!!!!!
“nggak ada ya kuncinya?”
“nggak Ry. Biarin la, besok gue minta kunci yang satu lagi sama ortu gue. Kuncinya kan ada dua.”
“Hee... sorry ya! kuncinya baru ketemu ni. Ternyata dibawah tumpukan pakaian yang belum disetrika. Sorry!”
“Riryyyyyyyy................”
“Hahaaa..... Ice jadi pemulung semalam” kak Ria tanpa dosa ketawa-ketiwi nggak jelas

Minggu, 25 November 2012

Keseruduk Kaca



-----23 November 2012-----

Hai...! How are you? Sis, bro, mbak, mbah, abang, ayuk, adek, kakak, whatever la. Gue hadir lagi ni.

Wajib kudu kalian tau, sebelum gue nulis ni script, gue sempat galau lho (kok?). Iya, gue bingung badai, ni episode kejadiannya tanggal 23 November 2012, tapi baru sekarang sempat gue tulis scriptnya (Lo tau kan! Gue tu emang sibuk banget, modeling, pemotretan ribet dech!) tanggal 25 November 2012 jadi gue bimbang mo bikin,, itu na yang diatas kata hai!

Episode ini sejujurnya sudah di delete dari memori otak gue. Tapi lo musti tau kalau otak gue juga ada recycle bin nya, so kapanpun gue pengen yang udah nggak ada kembali tinggal gue restore aja. Gampang kan!

‘’Action!!’’

Eittss! Sebelum gue cerita sampai daun, gue perkenalkan dulu actor dan artist yang berperan pasif (lho! Kok?) dalam episode keseruduk kaca ini.

Okeee...!

Pertama, tokoh utama ada Si Eks Kating (tau nggak lo kating? Apa coba? Kating itu ketua tingkat. Gimana sich? Eks kating tau kan? Nggak tau juga, aduuh! Kamsek badai lo ya. Eks kating nggak tau? *cari kamus deh) Prananta Gia Tarigan.

Kedua ada Si Iyah (hah...? kok mirip nama kebanyakan asisten rumah tangga gitu ya namanya? Iyah.... Ijah...) Fitri Wahyuning. Kenapa jadi Si Iyah? Dia sich apa-apa bilang ‘’iya...’’ ya udah gue tambahin aja ‘’h’’ nya biar lebih keren gitu.

Lanjut!! Ada Kubu Jerman (jangan kaget dulu, dia nggak lahir dijerman, bukan orang jerman, keturunan jerman pun jauh. Gue juga bingung kenapa kubu jerman. Kenapa ya?) Queen Tri Reski. Tapi gitu-gitu dia orangnya peduli lho! Peduli makan, peduli minum, peduli uang, peduli imbalan, peduli dech pokoknya.

Berikut ada Si Ayam, Tiara Nur Shinta. Kenapa harus ayam? Lo tau sendiri kan ayam itu pasangannya nggak jelas, nikah sini nikah sana (nikah? Manusia atau hewan sich! Ayam) makanya di beri nama Si Ayam, suaminya banyak buaangeeets uiiy! (bingung ya lo? Sama, gue juga)

Ini yang ke empat (kalau gue nggak salah ngitung) ada Ciborneg (nggak tau juga? Parah lo! Ciborneg itu si boru nainggolan) Ermy Hotdeliah, sudah pasti yang paling panas. Oh my hot!

Sabar ya! ini yang terakhir Si Gemuruh (tanya kenapa?) Lili Susanti. Gue labelin gemuruh karena suaranya, teriakannya, ketawanya, emmm... kalau kata Syahrini (asli gile lu kalau nggak tau Syahrini) cettaaarr banget. Kalau Si Gemuruh sudah membuka mulutnya langsung dech keluar suara yang membahana memecah angkasa (hmm... hiperbola). Serius dech! Miapah! Gue iri lho sama dia, ingin punya suara yang keras seperti dia (anda penasaran, kenapa?). Gini lho! (Duduk manis sini!) Biar hemat uang, hemat tenaga, dan hemat yang lainnya. Bayangin aja, nggak perlu microphone kan kalau ngomong di keramaian. Nggak perlu beli microphone sambil lari jongkok, nggak perlu colok sana colok sini, pinjam sana pinjam sini (hemat beib!)

Sorry! Masih ada satu lagi (sumpah! Ini beneran actor terakhir lho), Siip! Ini dia Si New Kating mandiri, Bintara Mario Siagian. Jangan salah walaupun terakhir dia juga cukup berperan pasif lho dalam episode kali ini. Sekadar pemberitahuan Si new kating suaminya Si ayam lho!

‘’Oke! Kerjakan soalnya dimulai dari sekarang jangan ada yang nyontek. Kalau nyontek asli kalian bakalan dapat 100’’ (nggak keci banget kan ya ujian dapat 100. Hmm!).

Ujian praktikum kimia organik yang menguras emosi dan air mata (bukannya ini program yang di salah satu stasium TV itu ya?) berhasil dilewatkan dengan mendarat mulus di UPT Komputer.

Sis, bro belum bisa tidur nyaman lho walaupun ujian selesai masih ada PAPK dan KOBA yang siap mencekik sampai masuk ICU. Sehubungan dengan itu, kita (actor dan actrist yang udah gue kenalkan tadi, masak lo lupa sich?) meluncur ke UPT Kom. dengan harapan (setinggi langit) OL gratis (tau sendiri semua yang gratisan itu enak, ngaku nggak lo?)

‘’bisa?’’
‘’pake yang mana sich?’’
‘’kok gue nggak mau ya?’’
‘’masih mutar-mutar aja dari tadi’’
‘’lho suami aku kan kamu? Gimana sich!’’
‘’waa... omongannya nikah mulu dari maren. Semester 6 ya?’’

Itulah beberapa dialog kecil yang sempat mengudara. UPT Kom. sudah terkunci oleh petugas (bukan gue! Sembarangan aja lo!) dan tertidur lelap. Meski begitu kami masih bisa OL ditempat paling nyaman dari pada toilet umum, pelataran UPT Kom. lesehan tanpa alas kaki (ngebayangin apa lo?). Ada banyak orang disana yang datang dari berbagai penjuru dunia (mulai lagi mengenang Bahasa Indonesia, dasar omas! Otak majas). Semua sibuk menatap layar laptop yang beraneka ragam spesies.

Ditengah kesunyian yang mencekam (ingat film Kuntilanak yang pernah ada di 21 cinema)
‘’ciee.... ciee....!’’
‘’ahaidek, Si eks kating dan Ciborneg resmi jadian ya! kok misah berdua aja duduknya. Gabung sini dong sama manusia’’
‘’yeyee... makan-makan la’’
‘’siipp!!’’
‘’hmm... ada yang cemburu ni, New kating jangan nangis ya!’’
‘’hmmm!’’ geleng-geleng kepala, Cuma itu yang bisa gue lakukan melihat dan menyaksikan ocehan teman-teman gue. Angka di jam tangan sudah menunjukan 14.30 kami (manusia-manusia super keci dan smart badai) memutuskan untuk pulang.

‘’jegeeerrr........’’
Sontak kami semua tertawa, yang paling keras dan semangat sudah pasti Si gemuruh alias Lili Susanti. Tertawa cikikikan. ‘’Hahaa... hohoo... hihiii.... ckckk....’’.

Memang dasar kami semua, Si eks kating mencoba membenturkan kepalanya ke kaca pintu UPT Kom. (ngapain? Itu kan yang mau lo tanyain? Info penting ni, lo semua harus hati-hati dengan eks kating. Dia punya ilmu aneh, itu tadi lagi menguji ilmunya) malah ketawa ngakak bukannya bantuin. Lihat kiri kanan ternyata semua mata tertuju kepada kami (serasa selebritis diliatin. Emang iya, masalah buat lo?). Gilanya mereka semua Cuma senyum-senyum nggak ada satupun yang ketawa (nggak tau juga gue apa maksud senyummannya, mungkin yang lagi menghuni pikiran dan nurani mereka ‘’teman yang aneh!’’)

‘’ aseekk. Hahaaa... eks kating grogi ya dekat dengan Si ayam (kok? Bukannya Ciborneg? Sekedar pengetahuan  aja, teman-teman gue emang kompak dan rasa kebersamaan tinggi banget. Pacar sama, istri sama suami pun milik bersama. Tapi itu nggak berlaku buat gue, tau sendiri gue orangnya setia. Cukup satu aja, itu pun nggak habis-habis)

Ada rahasia penting banget ni, gue yakin kalian semua pada nggak tau. Rahasia tentang Si eks kating, dia cerita ke gue (curcol gitu!). 32 jam yang lalu, ini dialog antara gue lagi berjalan dibawah terik matahari yang membakar kulit di tengah gurun pasir yang luas dengan Si eks kating dalam perjalanan menuju UPT Kom.

Gue: E K lo masih punya muka ke UPT Kom. ya?
E K: waa... pasti masih la. Kenapa memangnya?
Gue: kemaren kan kepala lo nyeruduk kaca, emm,, kaca nyeruduk kepala lo.
E K: hahaa... soal itu. Bukan yang pertama, sebelumnya juga sudah pernah. Kepala gue nyeruduk kaca mobil sampe pecah tu kaca.
Gue: hahh? Seriusan lo? luka tu kepala jadinya
E K: nggak penting juga gue bohong. Kepala gue nggak apa-apa malah kaca mobilnya yang pecah berkeping-keping (kalau hati, pasti sakit banget)

Dari dialog singkat itu gue semakin yakin kalau ilmu yang di miliki Si E K (jangan bilang lo bingung dari tadi, kok E K? E K itu eks kating. Jemari seksi gue bisa hancur kalau harus nulis sepanjang jalan kenangan, jadi gue singkat aja) mujarap dan ampuh adanya (sakti bahasa alai-nya). Jadi gue ingatin sekali lagi, catat dengan hurup kapital di kepala lo semua ‘’AWAS! HATI-HATI DENGANG EKS KATING’’ ntar lo semua di apa-apain sama dia (baikkan gue! *pasang muka manis ah...)

O iya, lupa (maklum memori gue kepenuhan, jadi yang tersimpan bergiliran) di UPT Kom. tanggal 23 itu juga ada Lani lho! (nggak tau ya? laki bini) Siti Raihan dan Safrizal. Mereka pasangan laki bini yang awet (bagi anak kimia dunia pengawetan bukan hal yang asing, dikasih formalin) sudah menikah semenjak  satu tahun yang lalu. Hmm... sayang mereka berdua belum pernah lho traktir makan merayakan hari pernikahan. Padahal yang perlu lo semua tau kemaren mereka dapat arisan dan beasiswa BM (Bidik Misi) nya baru aja keluar, tetap aja nggak ada acara kekantin barengnya.

‘’Heeiii!!! Lani kapan lagi?’’

*NB: kalian yang namanya gue sebutin dalam tulisan gue kali ini kudu wajib bersyukur. Jarang-jarang kan jadi actor and actrist. So, sangat wajib dan perlu serta harus berterimakasih ke gue (satu mangkok bakso + Jus apel cukup kok, lagi-lagi baikkan gue!)

Sabtu, 24 November 2012

Satu menit di surga



----- 24 November 2012----

Kami, sebut saja dua angsa (na lho? Kok? Iya, gue juga tau pasti lho mo nanya kenapa dua angsa kan?) cantik dan baik hati serta rajin beribadah. Seperti biasa setiap mengikuti perkuliahan pada hari sabtu pasti bawaannya ngantuk mulu (mo tau kenapa? Gue juga nggak tau hee...). Sudah berabad-abad gue melakukan penyelidikan (kayak detektif aja! Itu kan yang ada di pikiran lho. Emm... udah tau gue).

Oke lanjut! Hari itu, emm... hari ini (hahh??) tepatnya siang hari tanggal 24 november 2012, gue termasuk teman gue di dua angsa ikut ambil bagian dalam antrian panjang berdesak-desakan memasuki ruangan pekuliahan (mirip antrian BBM, sekali-kali pake hiperbola, itung-itung mengingat pembelajaran Bahasa Indonesia. Kok? Nggak nyambung banget kan ya?).
‘’Haahhh!! Akhirnya!’’ dengan susah payah gue melewati antrian manusia sepanjang sungai Amazon(nggak usah percaya, gue aja belum pernah mengukur sungai Amazon, gimana mo tau panjangnya!) bisa juga duduk di kursi paling nyaman. Kursi paling belakang, jauh dari pandangan singa, tersembunyi dari tatapan mematikan seorang singa (Seorang??? Singa orang atau manusia sich? Uppss!! Nyantai! Gue masih bisa membedakan hewan dengan manusia. Singa itu panggilan untuk seorang dosen yang sengaja gue dan angsa yang satu lagi berikan. Angsa dengan singa spesies yang sama kan?)

Tak bisa dipungkiri dan di hianati mata gue benar-benar ngantuk, nyalanya sudah 5 watt. Mati-matian gue nahan biar nggak ngantuk. Mencoba berbagai akal menghilangkan beban 1000 ton yang menggantung di mata seksi gue (nggak percayaan banget sich lho? Serius! Mata gue itu seksi, malah ada yang bilang seksi badai lho...) dan gue sangat bahagia tiada empatnya, ‘’Yeess!!’’ akhirnya usaha gue berhasil tetap mata gue ngantuk badai.

‘’Masih ingat materi kita minggu lalu tentang pengaruh kualitas... emm, apa itu? Ada yang ingat?’’
‘’Kualitas guru terhadap hasil belajar buk!’’
Itu kata-kata terakhir yang gue dengar sebelum mata gue, pikiran gue, tubuh gue terbang ke alam surga. Kuliah dimulai  bersamaan dengan perjalanan gue ke surga (Maaf buk mo gimana lagi, tuntutan alam. Asli saya ngantuk banget, o iya jangan lupa pake badai lho buk!). Semenit berada di surga ‘’ hahaahaaa.....hihiiii....!’’ gue bertransformasi ke dunia nyata lagi gara-gara mendengar suara yang asli nggak ngenakin banget. Mirip suara pocong (gini-gini gue juga penghuni 21 cinema lho! Salah satu cuplikan adegan film yang pernah gue tonton). ‘’Kurang asem!!!’’ Ternyata teman-teman disamping gue termasuk si angsa 2 (angsa 1 nya kan gue) ketawa ketiwi cekikikan nggak jelas. Bayangin! ngapain coba ngetawain gambar rumah yang emm, mending sich kalau bagus gambarnya, na ini! luar biasa ancurnya. Anggota Geng Gong lagi merancang, berangan-angan merangkai rumah masa depan (mirip lagu sherina nggak sich?). Aduhh!! Benar-benar!. Gue dipaksa memilih salah satu dari sembilan rumah yang mereka gambar sebagai rumah masa depan gue. Ya udah deh, gue pilih aja satu, nyenengin hati orang pahala kan?. Sejujurnya gue nggak mau milih rumah itu, gambarnya jelek banget teman, gimana rumahnya besok? ‘’hmm!!!’’ hanya bisa geleng kepala .Kalian mesti tau kalau gue itu orangnya sangat menghargai sesama, jadi gue nggak bisa nyakitin hati seorang. Walaupun kadang gue sendiri tersiksa tekanan batin. :P (tau nggak? rumah yang gue pilih gue renovasi lhoo...)

*Intinya apa sich ni bacaan???
Gue aja yang nulis juga nggak ngerti intinya di mana, kalau dalam tubuh manusia tu sama dengan hati nya dimana. Lari kali ye die?

*Sekedar informasi, (penting ni! Kudu wajib baca...)
Geng Gong, itu nama sebuah perkumpulan cewek-cewek cantik yang asli keren badai. Mereka semua mahasiswi pendidikan kimia disebuah universitas terbaik yang ada di jambi. Tapi maaf ya, mereka semua harganya lagi naik, jadi nggak mau di sebutin namanya. Eiittss!! Yang pasti gue termasuk didalamnya. Gue kan cantik, keren, smart lagi. Gile aje nggak!
Dua angsa, itu hanya nama nggak jelas dari mana munculnya (lewat botol jin kali ya? Angsa 2 itu pun ntah siapa, kembaran bayangan gue kayak) nya. ‘’Hahahaaaa....!’’

Rabu, 05 September 2012

Roda Kehidupan

Pemandangan sore yang sangat cerah. Mentari berwarna jingga perlahan kembali ke peraduannya. Burung-burung bernyanyi menambah sahdunya sore yang damai. Aku berjalan gontai menyusuri jalanan panjang yang tak berujung. Langkah ku terhenti dipinggiran sebuah danau yang tenang. Semua hal berlomba mencari tempat yang tenang dipikiranku.
‘’Cobalah belajar menjadi orang tua’’ kata-kata itu terus menghantui pikiranku. Perlahan air mata tak berdosa mengalir deras dipipiku. Dunia seakan mengucilkanku sangat jauh. Masih terpatri di benakku hari-hari yang ku lalui dua bulan yang lalu.
‘’Ehh..Tan liat nih! Cocok nggak sama aku?’’
‘’T.O.P. B.G.T Cla. Gaunnya cocok banget sama kamu, warnanya biru lagi’’
Disalah satu butik terkenal ‘’MDC-Boutique’’ yang menjual barang-barang bermerek import ini lah aku terbiasa menghabiskan uang. Membeli baju, celana, sepatu semua keperluan yang sebenarnya tidak terlalu penting. Tania Hendriawan adalah sahabat baik yang kukenal sejak awal memasuki sekolah menengah atas. Makan, jalan-jalan, nonton, belanja merupakan kegiatan rutin yang kami lakukan setiap pulang sekolah. Tidak pernah terpikirkan bahwa aku tidak mempunyai uang. Apa yang ku inginkan selalu aku dapatkan.
‘’Cla habis bayar SPP nanti kita jalan ke Mall yuk! Laper kita sekalian makan’’
‘’Good idea’’ aku bersemangat. ‘’Emm,, tapi kita harus bayar uang Perpustakaan dan Laboratorium  dulu uangnya sudah dibawa ni, bosok aja la ke Mallnya’’
‘’Yee... gimana sich. Uang Perpustakaan dan Laboratoriumkan bayarnya habis ngontrak semester baru besok. Pokoknya habis ni kita ke Mall lagian dua hari lagi kan kita libur puasa. Besok-besok kita nggak akan ketemu sampai lebaran. Buat belanja baju lebaran aja dulu uangnya’’
***
Lebaran telah berlalu, semua umat muslim bersuka cita merayakan hari kemenangan yang suci. Sekolah  dan semua mata pelajaran yang membosankan telah menantiku. Seminggu lagi jadwal ngontrak semester baru  sudah mulai di buka. Semua siswa tidak terkecuali aku akan sibuk mempertimbangkan mata pelajaran apa yang akan di ambil. Tenaga pasti akan lebih terkuras lagi oleh acara mengantri untuk membayar uang Perpustakaan dan Laboratorium. Seperti biasa setiap tahun ajaran baru akan ada sebuah Bank di dekat sekolahku yang akan dipenuhi oleh ribuan siswa yang berjejer membentuk sebuah ular panjang  yang seakan-akan siap memakan mangsanya.
‘’Hmmm’’ sangat ingin aku membuang semua penat yang mendera seluruh tubuhku saat ini. Air mata ku terus mengalir menambah kedalaman danau. Kerikil kecil yang aku lempar membuat riak di air yang tenang.
Saat ini aku benar-benar menyadari bahwa sangat sulit untuk bertahan hidup. Kalimat kehidupan itu seperti roda yang berputar baru aku sadari. Uang satu juta dulu dalam waktu satu menit sangat mudah untuk dihabisi. Sekarang uang sebesar itu sangat sulit untuk ku dapatkan.
Iya, saat ini keuangan keluarga ku sedang terganggu. Untuk membayar uang Perpustakaan dan Laboratorium pun aku harus memikirkan dari mana akan ku peroleh. Sangat berat beban yang aku rasakan saat ini menghimpit tubuhku. Dulu aku tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dimasa depan. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana cara menghabiskan uang hari ini. Menyia-nyiakan makanan dan membeli semua barang bermerek yang ku inginkan. Padahal diluaran sana banyak orang yang tidak bisa makan teratur tiga kali sehari. Sedangkan aku setiap membeli makanan selalu saja ada sisa yang terbuang.
Saat ini tidak ada lagi Clara Ayunda Bernanda yang tajir, sombong,modis dan cantik lengkap dengan makeup cantiknya. Dia lenyap seiringan dengan terpuruknya usaha Garmen milik keluarganya.Yang ada hanya seorang remaja dengan air mata yang selalu menghiasi pipi manisnya.

Kamis, 21 Juni 2012

Sebuah Rasa

Malam itu saat pertama ku melihatmu
Pandangan ku tak lepas dari sosok teduh mu
Senyummu memberikan kesejukan
Tatapan itu membawa kebahagiaan
Sikap mu membuat ku merasa nyaman
Dan ucapan mu menggetarkan hati yang diam

Sejak waktu itu...
Bayang mu selalu hadir temani hari ku
Senyum itu bermain indah di pikiran ku
Ucapan mu selalu terngiang di telinga ku
Dan dirimu hadir menghiasi mimpi-mimpi indah ku

Aku tak berdaya....
Aku jatuh kedalam magnet cinta mu
Aku terhempas kedalam lembah kehidupanmu
Aku terperangkap dalam jerat hati mu
Dan aku tak bisa memungkiri itu
Aku sangat mengagumi mu
Aku sangat mengharapkan rindu mu untuk ku

Cinta.....
Yaa..., ku akui aku mencintaimu
Tepatnya aku sangat mencintaimu...

Rabu, 20 Juni 2012

Pernah

Cinta . . . .
Aku pernah mencintai dengan tulus

Sayang . . . .
Aku pernah menyayangi melebihi yang kau tau

Setia . . . .
Aku pernah mengabaikan rasa yang nyata untuk ku

Bahagia . . . .
Aku pernah tertawa sampai ku tak bersuara

Terluka . . . .
Aku pernah terluka memintamu tetap disini

Menangis . . . .
Aku pernah menangis menyadari kebodohan ku
Yaa . . . aku pernah melakukan itu

Kini,,,,,,,
Dirimu yang palsu berdiri dihadapan ku
Apa yang terjadi ???
Kenapa akhirnya seperti ini ???
Pertanyaan bodoh yang tak seharusnya kau ucap
Pertanyaan yang tak seharusnya ku jawab
Kau lebih memahami itu
Menyesal . . . .
Terpuruk . . . .
Menangis . . . .
Aku tak yakin kau merasakan itu